Monday, October 28, 2013

Android Gingerbread Kini Bisa BBM-an

Sesuai keterangan BlackBerry, versi Android yang dapat mencicipi BBM lintas platform adalah Ice Cream Sandwich 4.0 ke atas. Dengan kata lain, seharusnya tak ada harapan bagi pengguna Android jadul untuk bisa BBM-an.

Alasannya bisa jadi karena kebanyakan perangkat Android yang masih mengandalkan versi Gingerbread 2.3 memiliki spesifikasi yang kurang mumpuni. Selain prosesor yang umumnya masih di bawah 1 GHz, kapasitas RAM yang dimilikinya pun rata-rata masih di bawah 512 MB.

Namun kini pengguna perangkat Android yang masih menggunakan versi Gingerbread 2.3 dipastikan dapat merasakan kesempatan yang sama.

Xda developer yang dikenal sebagai komunitas pengembang aplikasi mobile mengumumkan kehadiran BBM Android yang telah di-porting pada Android versi 'roti jahe' 2.3.

Tidak ada perbedaan apapun antara BBM versi Gingerbread dengan versi yang resmi diumumkan Blackberry. Namun mengingat rendahnya spesifikasi yang umumnya dimiliki perangkat Android 2.3, mungkin pengguna bakal menemui sedikit lag meski secara keseluruhan tidak begitu mengganggu.

Adapun pengguna Android Gingerbread 2.3 yang ingin menggunakan BBM dapat men-download aplikasi ini lewat berbagai sumber yang ada di internet. Tapi untuk amannya, pengguna dapat langsung mencarinya dari forum XDA developer.

Sebagai informasi, meski tak lagi favorit, berdasarkan data yang dirilis oleh Google awal bulan Oktober ini, Android Gingerbread 2.3 masih mendominasi pasar perangkat Android dengan porsi sebesar 28,5 %.

Raihan itu hanya tertinggal satu tingkat di bawah Android Jelly Bean 4.2 dengan porsi tertinggi sebesar 36,5 %. Sementara Android 4.0 ICS masih hanya memiliki porsi 20,6 %.

Sebelum Potong Pendek Perhatikan 4 Hal Berikut

Bukan keputusan yang mudah untuk memangkas rambut menjadi pendek. Anda harus memikirkan berbagai aspek dan model rambut apa yang diinginkan.

Rambut pendek memang menjadi tren saat ini. Rambut di atas bahu tersebut kini tidak melulu dianggap tomboy. Justru lewat potongan pendek wanita malah terlihat seksi dan segar.

Tapi sebelum memutuskan memangkas rambut menjadi pendek, Russell McGrath dari Salon Michael Van Clarke di London, Inggris memberikan tipsnya. Ini hal-hal yang perlu Anda ketahui, seperti dikutip Female First.

1. Jangan Mendadak
Jangan mendadak akan potong rambut bila Anda belum tahu model apa yang pas. Jika Anda tidak memikirkan secara matang, Anda akan kecewa bila hasilnya tidak sesuai. Selain itu, Anda akan repot lagi untuk mencari hair stylist yang tepat untuk menata ulang rambut Anda yang gagal. Sebaiknya, bila rambut Anda sangat panjang, jangan langsung memotong rambut jadi sangat drastis. Potonglah rambut menjadi bob panjang (pas sebahu) dulu, beberapa minggu atau bulan setelahnya baru coba langsung memangkas rambut.

2. Konsultasi dengan Hair Stylist
Carilah hair stylist yang tepat dan biasa memotong rambut pendek. Setelah itu konsultasikan model rambut seperti apa yang Anda inginkan, karena belum tentu model rambut tersebut cocok dengan bentuk wajah Anda. Sang hair stylist lah nanti yang akan menyesuaikannya.

3. Bawa Gambar
Belum tentu si hair dresser paham dengan penjelasan Anda. Sebaiknya tunjukkan gambar dengan model rambut yang Anda inginkan. Dengan begitu, Anda akan mendapatkan potongan rambut yang memuaskan.

4. Warna Rambut
Mungkin Anda ingin benar-benar make over tampilan lewat rambut. Tidak hanya memangkas rambut, Anda pun ingin mewarnai rambut. Tapi pastikan Anda tidak melakukan perubahan terlalu drastis. Hindari memilih warna rambut yang terlalu terang. Orang akan kaget melihat Anda. Memangkas rambut saja bisa membuat orang pangling, apalagi Anda mewarnai rambut dengan warna yang terlalu terang atau warna-warni. Pilihlah tone warna rambut yang gelap yang sesuai dengan Anda.

Sunday, October 27, 2013

Peluk Orang Tersayang 8 Kali Sehari, Hidup Jadi Lebih Sehat Lahir Batin

Pelukan bukan hanya ungkapan kasih sayang. Salah satu bentuk sentuhan fisik ini memiliki efek yang lebih besar dari sekadar membuat perasaan lebih tenang dan bahagia.

Psikolog Melly Puspita Sari, Psi, M, NPLm Psychologist menyebutkan, pelukan yang dilakukan minimal delapan kali sehari bisa membuat hidup lebih sehat. Tapi Melly menegaskan, sebaiknya jangan selalu menghitung dan terpaku pada jumlah pelukan karena ketika pelukan menjadi sebuah kebutuhan, sebanyak apapun frekuensinya tidak akan menjadi masalah.

"Menurut penelitian yang disebutkan oleh Kathleen Keating dalam bukunya 'The Hug Therapy', empat kali pelukan bisa mempertahankan hidup. 12 kali pelukan untuk kesehatan dan kebahagiaan," tutur psikolog lulusan Universitas Muhammadiyah Malang ini, saat talkshow 'Berbagi Pelukan Melalui Kelembutan Molto Ulta Pure' di Piscator, Gandaria City, Jakarta Selatan, Jumat (18/10/2013).

Berdasarkan penelitian dari University of North Carolina, Amerika Serikat, pelukan bisa menurunkan kadar hormon stres (kortisol) sekaligus meningkatkan hormon oksitosin yang mampu memberikan perasaan tenang. Ketenangan dan kenyamanan yang dirasakan saat berpelukan, otomatis juga mengurangi stres. Seperti diketahui, stres merupakan akar dari segala penyakit dan ketegangan. Maka semakin sering dipeluk, orang juga akan semakin sehat baik secara mental maupun fisik.

Dalam sebuah penelitian yang dipimpin oleh psikolog Dr Karen Grewen kepada 38 pasangan, diketahui pasangan yang berpelukan selama 20 detik kadar kortisolnya menjadi rendah dan oksitosin meningkat. "Efeknya terjadi lebih signifikan pada wanita. Manfaat pelukan juga kurangi potensi penyakit jantung," terang Melly yang juga penulis buku 'The Miracle Of Hug'.

Sementara itu pelukan yang diberikan pada orang dengan kondisi tubuh tidak sehat, kekebalan tubuhnya akan meningkat. Dampak positif pelukan akan lebih efektif apabila dilakukan dengan cara yang tepat.

"Sama-sama rangkulkan tangan saat pelukan, rasakan aliran energi. Bayangkan jika pelukan tersebut adalah pelukan terakhir," tutur Melly.

Peluklah orang yang Anda sayangi sambil tersenyum. Hal itu akan membuat kebahagiaan lebih terasa saat berpelukan. Peluklah orang tersayang Anda sesering mungkin dan lakukan dengan tulus, sepenuh hati sampai menemukan titik kenyamanan.

"Saat berpelukan jangan langsung dilepas. Apalagi pada orang yang tidak terbiasa dipeluk. Tahan beberapa detik sampai dia merasa nyaman," saran Melly.

Selain pelukan, sentuhan lain seperti memegang tangan, meremas bahu atau mengusap kepala juga punya efek yang sama untuk menimbulkan perasaan senang dan menyamankan. "Prinsipnya adalah sentuhan. Ketika disentuh ada sensori yang menyamankan," kata Melly.